Muhammad Elbarra Athallah adalah seorang bayi laki-laki yang lahir pada 20 Juni 2024 di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Elbarra merupakan anak kelima dari lima bersaudara, buah hati dari pasangan Ayah Dedi Bayangkara dan Ibu Anjani. Kehadirannya disambut dengan penuh kebahagiaan dan harapan oleh keluarga. Elbarra lahir secara normal dan pada awalnya tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan.
Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki hari kedua setelah kelahiran, Elbarra mulai menunjukkan kondisi yang tidak biasa. Perutnya tampak membesar dan kembung, serta ia tidak dapat buang air besar sebagaimana bayi normal pada umumnya. Melihat kondisi tersebut, orang tua Elbarra segera membawanya ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Di puskesmas, Elbarra harus menjalani perawatan inap. Tim medis memasangkan NGT (Nasogastric Tube) untuk membantu mengeluarkan udara dan cairan dari lambungnya. Meski sudah dilakukan tindakan awal, kondisi Elbarra belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Perutnya tetap kembung dan ia masih belum bisa buang air besar secara alami.
Karena keterbatasan fasilitas, Elbarra kemudian dirujuk ke RSUD Torabelo. Di rumah sakit tersebut, Elbarra dirawat secara intensif di ruang PICU selama kurang lebih delapan hari. Meski sudah mendapatkan penanganan maksimal, kondisi Elbarra masih belum stabil, sehingga dokter memutuskan untuk kembali merujuknya ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
Selanjutnya, Elbarra dirujuk ke RSUD Undata Palu. Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan, termasuk CT Scan, dokter akhirnya mendiagnosis Elbarra menderita Hirschsprung’s Disease, yaitu kelainan bawaan pada usus besar yang disebabkan oleh tidak adanya sel saraf pada sebagian usus, sehingga penderitanya tidak dapat buang air besar secara normal.
Sejak saat itu, Elbarra harus menjalani spooling setiap hari untuk membantu mengeluarkan feses dari ususnya agar perut tidak semakin kembung. Dokter menyarankan agar Elbarra menjalani tindakan colostomy, yaitu pembuatan lubang di perut sebagai jalan keluar sementara feses. Namun, dengan mempertimbangkan kondisi medis jangka panjang serta keterbatasan fasilitas, keluarga memutuskan untuk melanjutkan pengobatan di rumah sakit rujukan nasional.
Atas rekomendasi dokter, Elbarra dirujuk ke RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Keputusan ini menjadi tantangan besar bagi keluarga, mengingat kondisi ekonomi yang terbatas. Ayah Elbarra bekerja sebagai pedagang ikan di pasar dengan penghasilan sekitar Rp1.500.000 per bulan, sementara ibu berperan sebagai ibu rumah tangga.
Di tengah kebingungan dan keterbatasan tersebut, orang tua Elbarra mendapatkan informasi mengenai Rumah Harapan Indonesia (RHI) melalui komunitas orang tua pasien Hirschsprung’s Disease di media sosial TikTok. Setelah menghubungi pengurus RHI, mereka mendapatkan respon yang sangat baik dan diarahkan untuk datang langsung ke RHI Makassar.
Pada 5 November 2024, Elbarra bersama orang tuanya resmi tinggal di Rumah Harapan Indonesia Makassar. Sejak saat itu, RHI menjadi rumah kedua bagi Elbarra selama menjalani pengobatan. Di RHI, keluarga Elbarra mendapatkan tempat tinggal yang layak, kebutuhan makan sehari-hari, bantuan logistik, serta pendampingan selama kontrol dan pengobatan di rumah sakit.
Selama menjalani perawatan di Makassar, Elbarra menjalani berbagai pemeriksaan lanjutan, termasuk biopsi usus. Hasil biopsi menunjukkan bahwa saraf pada bagian usus dekat anus tidak berfungsi. Berdasarkan hasil tersebut, dokter memutuskan bahwa Elbarra harus menjalani operasi pemotongan usus (pull-through) untuk mengangkat bagian usus yang rusak agar sistem pencernaan dapat berfungsi normal.
Operasi pertama telah dilakukan, namun hasilnya belum maksimal. Elbarra masih belum dapat buang air besar secara mandiri dan tetap membutuhkan spooling secara rutin. Meski demikian, orang tua Elbarra tidak menyerah. Mereka terus mendampingi Elbarra menjalani kontrol dan perawatan lanjutan dengan penuh kesabaran.
Setelah melalui masa pengobatan yang panjang, Elbarra sempat menjalani masa libur untuk pemulihan kondisi. Kemudian pada 2 Agustus 2025, Elbarra kembali melanjutkan kontrol rutin. Kondisinya saat itu dinilai cukup stabil dan mengalami peningkatan, sehingga dokter kembali melakukan evaluasi menyeluruh.
Dari hasil beberapa kali kontrol, dokter menyimpulkan bahwa Elbarra perlu menjalani operasi pull-through lanjutan agar proses penyembuhan dapat berjalan optimal. Operasi tersebut kemudian dijadwalkan pada 11 September 2025. Momen ini menjadi titik penentuan bagi kesembuhan Elbarra setelah perjuangan panjang sejak ia dilahirkan.
Dengan izin Allah SWT, operasi pada tanggal tersebut berjalan dengan lancar. Elbarra menjalani masa pemulihan pasca operasi dengan pengawasan ketat. Hari demi hari, kondisi Elbarra menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Perutnya tidak lagi kembung, dan ia mulai dapat buang air besar secara alami.
Setelah beberapa kali kontrol pasca operasi, dokter menyatakan bahwa kondisi Elbarra sudah sangat baik dan stabil. Fungsi ususnya telah berjalan normal sesuai dengan usianya. Pada kontrol terakhir, Elbarra akhirnya dinyatakan sembuh dan tidak memerlukan tindakan medis lanjutan, selain kontrol rutin.
Pada 1 Oktober 2025, Elbarra bersama kedua orang tuanya akhirnya pulang ke kampung halaman. Kepulangan ini menjadi momen penuh haru dan syukur. Perjuangan panjang, air mata, ketakutan, serta doa yang tak pernah putus akhirnya terbayar dengan kesembuhan Elbarra.
Orang tua Elbarra menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh tim medis, Rumah Harapan Indonesia, para donatur, dan semua pihak yang telah membantu selama masa pengobatan. Bagi mereka, RHI Makassar bukan hanya tempat singgah, tetapi telah menjadi keluarga kedua yang menemani di masa-masa tersulit.
Kini, Elbarra dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Senyum dan tawanya menjadi bukti bahwa harapan itu nyata, dan bahwa setiap perjuangan yang dijalani dengan ketulusan dan kebersamaan akan selalu menemukan jalannya menuju kesembuhan.