Igo Malaikat Kecil Pejuang Atresia Ani, Dektrocardia dan Down Syndrome

Tak tersirat sedikitpun rasa lelah dari wajah ceria Igo setelah melalui perjalanan panjang menuju kesembuhannya. Di usianya yang menginjak 5 tahun si kecil Igo yang bernama lengkap Gregorius Kette telah melewati berbagai perjalanan panjang pengobatan untuk kelainan yang dideritanya .

Terlahir di keluarga sederhana di Sumba Barat Daya, Igo didiagnosa Atresia Ani, Down Syndrome, dan kelainan pada Jantung (dextrocardia). Namun, kenyataan pahit ini tak sedikitpun menyurutkan semangat kedua orang tua Igo untuk mengantarkan Igo mencari jalan kesembuhan .

Atresia Ani atau kondisi dimana bayi terlahir tanpa lubang anus mengharuskan Igo untuk melakukan operasi Perineal Anoplasty . Selama menunggu tindakan operasi dilakukan, tim dokter rumah sakit  di tanah kelahiran Igo di Sumba membuat lubang (stoma) di dinding perut sebagai saluran pembuangan sementara atau dalam istilah medisnya dikenal dengan sebutan kolostomi. Tepat di usia 6 bulan , Igo akhirnya menjalani operasi Perineal Anoplasty di RSUP Sanglah, Denpasar. Beruntung  saat itu kedua orang tua Igo mendapatkan informasi mengenai RHI Bali yang akhirnya membuka jalan bagi Igo untuk menjadi salah satu adik dampingan. Operasi Igo berjalan dengan sangat lancar hingga akhirnya di usia satu tahun , Igo melakukan operasi tutup  kolostomi. Kini Igo sudah bisa buang air besar dengan normal.

Berhasil melewati Atresia Ani, lalu kedua orang tua Igo masih harus menemani Igo menjalani kontrol rutin setahun sekali untuk kondisi down syndrome dan juga harus menjalani kontrol rutin terhadap kondisi jantungnya .

Beberapa dokter yang Igo temui antara lain ahli gizi untuk melakukan pengecekan terhadap nutrisi, pengecekan THT, dan juga melakukan pemeriksaan rutin di dokter anak ahli endokrinologi.

Bolak balik Sumba – Denpasar untuk terapi dan kontrol kesehatan menggunakan pesawat membuat Igo sudah sangat familiar dengan transportasi yang satu ini. Igo kini sudah hafal betul tata cara menaiki pesawat terbang , bahkan sesekali ia mengambil majalan yang ada di kursi pesawat sambil memperagakan seseorang yang sedang membaca buku! Igo juga sudah bisa tertib saat sedang menunggu giliran kontrol dokter. Terlebih ketika namanya dipanggil ia langsung menyahut dengan kata “Siap!”. Tingkah lucu dan menggemaskan Igo kerap kali menjadi penghibur bagi para orang tua dan adik dampingan di RHI Bali lainnya. Kehadirannya seolah memberikan seruan semangat bagi kawan – kawannya di RHI Bali untuk tetap optimis dan bahagia menjalani setiap tahapan pengobatan .

Hari – hari Igo di Sumba kini diisi dengan membantu orang tuanya di kebun bersama dengan kakak-kakaknya. Igo yang sekilas lalu dianggap oleh banyak orang memiliki keterbatasan, ternyata sangat lihai mengangkat dan memindahkan hasil kebun. Meskipun sesekali bertengkar dengan kakak-kakaknya, namun Igo tetaplah kesayangan keluarga, dan tentu saja kesayangan kami semua!